Learning Solution

Organisasi perlu menentukan model pembelajaran seperti apa yang paling tepat untuk mencapai target yang sudah disepakati. Model pembelajaran dapat berupa belajar sendiri, belajar terstruktur, belajar dari orang lain, dan/atau belajar sambil bekerja. Penentuan model pembelajaran ini adalah fokus dari komponen learning solution. Dengan model pembelajaran yang tepat, tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan lebih efektif dan efisien.

icon
  1. Gambaran Umum
    1. Pengertian
    2. Learning Solutions dalam kerangka learning organization dipahami sebagai implementasi berbagai model/desain pembelajaran (self-learning, structured learning, social learning/learning from others, dan learning from experience/learning while working) yang dapat memfasilitasi organisasi untuk terus berkembang dengan mengarah pada tujuan yang direncanakan, yaitu untuk mendukung reformasi birokrasi yang berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan publik, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik, serta memberikan keunggulan kompetitif pada Kementerian Keuangan.

      Implementasi learning dengan menggunakan beberapa model yang dinamis ini selaras dengan kerangka pembelajaran dalam Kemenkeu Corporate University(Kemenkeu Corpu) sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 924/KMK.011/2018 tentang Kementerian Keuangan Corporate University, dan Pengembangan Kompetensi Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 216/PMK.01/2018 tentang Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lingkungan Kementerian Keuangan. Pada dua ketentuan tersebut, model pembelajaran yang diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kinerja organisasi adalah model pembelajaran yang mengadopsi konsep 70:20:10 yang secara berurutan terdiri atas: aktivitas pembelajaran terintegrasi di tempat kerja melalui praktik langsung (learning from experience/learning while working); aktivitas pembelajaran kolaboratif dalam sebuah komunitas maupun bimbingan, melalui interaksi atau dengan atau dengan mengobservasi pihak lain (social learning/learning from others); dan aktivitas pembelajaran melalui metode ceramah dalam berbagai pelatihan di dalam kelas (klasikal) maupun di luar kelas (structured learning). Ketiga model pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan secara terpisah atau terpadu.

      Selain ketiga model pembelajaran tersebut, terdapat satu model pembelajaran lain yang dapat dilakukan untuk membangun organisasi pembelajar, yaitu self-learning. Marquadt (2002) menyatakan bahwa proses pembelajaran pada level individu dapat dilakukan dengan pembelajaran yang dikelola secara mandiri (self-managed learning). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 216/PMK.01/2018 juga menyebut belajar mandiri (self-development) sebagai salah satu jalur pengembangan nonklasikal.

    3. Ruang Lingkup
    4. Komponen learning solutions mencakup seberapa jauh model/desain pembelajaran yang telah diimplementasikan unit Eselon I dalam rangka mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh pegawai, tim, dan organisasi dengan melihat jumlah pegawai yang melakukannya.

    5. Tujuan
    6. Organisasi mampu mengimplementasikan model/desain pembelajaran yang efektif, efisien, adaptif, dan mampu meningkatkan kinerja organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran utama (ultimate goals) yang telah direncanakan.

    7. Subkomponen
    8. Learning solutions memiliki empat subkomponen, yaitu: self-learning, structured learning, social learning/learning from others, dan learning from experience/learning while working. Penjelasan dari masing-masing subkomponen adalah sebagai berikut:

      • Self-learning

        Self-learning adalah proses dimana seorang individu berinisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar, memformulasi tujuan belajar, mengidentifikasi sumber pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar (Knowles (1975). Hal ini berarti dalam self-learning, seorang pegawai/individu berperan secara aktif dan tidak tergantung kepada pihak lain dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Contoh pelaksanaan self-learningadalah membaca buku, menonton media audio visual, dan mencari informasi melalui mesin pencari di internet yang berkaitan dengan tugas dan fungsi pegawai. Sumber belajar yang digunakan dalam self-learning dapat berasal dari BPPK maupun dari luar BPPK. Sumber pembelajaran self-learning yang difasilitasi oleh BPPK dapat berupa konten edukatif di kanal publikasi yang dimiliki oleh BPPK. Self-learning dapat dilaksanakan sepanjang tahun sesuai dengan kebutuhan.

      • Structured-learning

        Structured learning adalah pengembangan kompetensi melalui metode ceramah dalam berbagai pelatihan di dalam kelas (klasikal) maupun di luar kelas. Kegiatan structured learning meliputi pelatihan, seminar/konferensi/sarasehan, kursus, penataran, workshop/lokakarya, bimbingan teknis, sosialisasi, Pelatihan Jarak Jauh (PJJ), dan e-learning.Structured learning dapat dilaksanakan dengan metode tatap muka langsung, tatap muka virtual, dan/atau non-tatap muka. Kegiatan structured learning berupa pelatihan, penataran, kursus, PJJ, dan e-learning dapat difasilitasi oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan atau lembaga/institusi lain yang mempunyai tusi menyelenggarakan kegiatan pelatihan. Sedangkan kegiatan structured learning yang lain dapat diselenggarakan secara mandiri oleh Unit Eselon I. Structured learning dapat diselenggarakan sepanjang tahun sesuai jadwal yang telah ditetapkan untuk masing-masing kegiatan.

      • Social-learning/learning from others
      • Social learning/learning from others adalah aktivitas pembelajaran kolaboratif dalam sebuah komunitas maupun melalui bimbingan di luar kelas, melalui interaksi atau dengan mengobservasi pihak/orang lain, seperti coaching & mentoring (di luar Dialog Kinerja Individu), knowledge sharing, patok banding (benchmarking), dan keikutsertaan dalam komunitas belajar (community of practices). Social learning dapat dilaksanakan dengan metode tatap muka langsung, tatap muka virtual, dan/atau non-tatap muka. Social learning dapat dilaksanakan sepanjang tahun sesuai kebutuhan/kebijakan yang ditetapkan oleh Unit Eselon I terkait.

      • Learning from experiences/learning while working
      • Learning from experiences/learning while working adalah aktivitas pembelajaran terintegrasi di tempat kerja melalui praktek langsung seperti magang/praktek kerja, detasering (secondment),action learning, gugus tugas, tugas tambahan, pertukaran antara pegawai negeri sipil dengan pegawai swasta/badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah. Learning from experiences/learning while working dapat dilaksanakan sepanjang tahun sesuai rencana yang telah disusun.


  2. Strategi Implementasi
  3. Supaya learning yang dilakukan dapat menjadi solusi atas permasalah yang dihadapi organisasi, maka learning harus dibudayakan dalam organisasi. Dengan adanya budaya organisasi yang berorientasi pada learning, organisasi mengatur model pembelajaran yang akan digunakan sehingga learning dapat terinternalisasi dan memberikan manfaat bagi individu, tim, dan organisasi. Strategi implementasi untuk setiap subkomponen dijabarkan berikut:

    1. Self-learning
      1. Unit yang menangani pengembangan kompetensi pegawai melakukan sosialisasi mengenai self-learning dan pedoman pelaksanaannya.
      2. Unit mendorong pelaksanaan self-learningdengan memberikan informasi mengenai sumber-sumber belajar yang relevan.
      3. Pegawai mengidentifikasi kebutuhan belajar dan memformulasikan tujuan belajar
      4. Pegawai mengidentifikasi sumber dan waktu pembelajaran
      5. Pegawai melaporkan ke atasan bahwa akan melakukan kegiatan self-learning
      6. Pegawai mengevaluasi hasil belajar apakah proses pembelajaran sudah memenuhi tujuan pribadi yang diinginkan.
      7. Pegawai menyampaikan laporan pelaksanaan self-learning ke atasan langsung yang dilampiri dokumentasi hasil belajar.
      8. Pegawai mengunggah hasil belajar ke knowledge management system atau melakukan sharing mengenai materi yang dipelajari.

    2. Structured learning
      1. Bagian SDM Unit Eselon I melakukan identifikasi kegiatan structured learning yang akan dilaksanakan, baik yang bersifat mandatory maupun hasil analisis kebutuhan pembelajaran.
      2. Bagian SDM unit Eselon I menginformasikan jadwal pelatihan kepada pegawai yang akan ditugaskan untuk mengikuti pelatihan terkait.
      3. Bagian SDM unit Eselon I menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan learning, misalnya Surat Tugas dan Dokumen SPPD
      4. Pegawai menginformasikan jadwal pelatihan yang akan diikuti
      5. Pegawai menyampaikan laporan pelaksanan structured learningke atasan langsung yang dilampiri dokumentasi hasil belajar.
      6. Pegawai mengunggah hasil belajar ke knowledge management system atau melakukan sharing mengenai materi yang dipelajari

    3. Social learning/ learning from others
      1. Pegawai aktif bergabung dalam Communities of Practice (CoP)
        • Bagian SDM unit Eselon I menginformasikan CoP yang dapat diikuti oleh pegawai yang sesuai dengan tugas dan fungsinya.
        • Bagian SDM unit Eselon I menghimbau agar pegawai dapat berpartisipasi dalam CoP.
        • Pegawai bergabung dalam CoP dan berpartisipasi aktif.
        • Pegawai menyampaikan laporan bahwa telah bergabung dalam suatu CoP ke atasan langsung dan Bagian SDM.
      2. Melaksanakan coaching dan mentoring (di luar DKI) yang rutin terjadwal.
        • Calon Coachee dan Mentee menerima masukan awal mengenai proses atau hasil pekerjaan yang belum memenuhi standar kualitas pekerjaan.
        • Coachee dan Mentee berdiskusi dengan atasan mengenai permasalahan/kendala yang dihadapi dan menyepakati solusi yang akan dilaksanakan.
      3. Penyelenggaran knowledge sharing secara teratur/terjadwal.

        Strategi implementasi dari knowledge sharing merujuk pada implementasi komponen Knowledge Management.

      4. Unit organisasi merencanakan dan melakukan kegiatan benchmarking.

    4. Learning from experiences/learning while working
      1. Bagian SDM unit Eselon I menginformasikan penawaran kegiatan learning from experiences/learning while working, seperti: magang/praktik kerja, detasering (secondment), gugus tugas, tugas tambahan, pertukaran antara pegawai negeri sipil dengan pegawai swasta/badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah.
      2. Pegawai mengajukan usulan untuk mengikuti kegiatan learning from experiences/learning while working yang ditawarkan.
      3. Bagian SDM unit Eselon I menugaskan pegawai untuk melaksanakan learning from experiences/learning while working.
      4. Pegawai membuat laporan kegiatan learning from experiences/learning while working yang dilampiri dokumentasi hasil belajar.
      5. Mengunggah hasil belajar ke knowledge management system.
      6. Apabila diperlukan, pegawai melakukan knowledge sharing terkait hasil dari learning from experiences/learning while working