Learners

Dengan dukungan organisasi yang memadai, seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan harus membangun sikap mental, motivasi dan kebiasaan belajar baru sebagai learners atau pemelajar, baik di tingkat individu, tim maupun organisasi. Kebiasaan belajar baru tersebut dibangun oleh pemelajar dengan secara aktif melakukan pembelajaran, baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur, untuk meningkatkan kinerja.

bean bag
  1. Gambaran Umum
    1. Pengertian
    2. Senge (1990) di dalam Marquardt (2002) menyatakan bahwa Learning Organization dapat terwujud melalui individu yang berperan sebagai pembelajar. Meskipun adanya individu pembelajar tidak menjamin Learning Organization dapat terwujud, namun tanpa adanya individu pembelajar yang mengkolaborasikan hasil belajarnya, Learning Organization tidak mungkin dapat terwujud. Dengan kata lain, di dalam Learning Organization, komitmen dan kemampuan pembelajar yang mengimplementasikan hasil belajarnya merupakan hal yang sangat material. Learners mencakup individu, tim, dan organisasi yang menempatkan dirinya sebagai pembelajar. Komponen Learners tidak hanya mencakup aspek fisik, namun juga motivasi, pemikiran, nilai-nilai, sikap dan mental, maupun inisiatif dalam upaya pengembangan diri, tim kerja dan organisasi secara menyeluruh dan berkesinambungan. Komponen ini juga mendeskripsikan proses akulturasi budaya belajar dan keleluasaan pembelajaran, baik secara individu maupun tim, dalam memperoleh pembelajaran sesuai arah pengembangan organisasi. Akulturasi budaya belajar direpresentasikan dengan persepsi pegawai terhadap budaya belajar dan pengaplikasiannya, baik di lingkup individu maupun tim. Sedangkan, keleluasaan pegawai dalam memperoleh pembelajaran direpresentasikan dengan tingkat kemudahan setiap pegawai mendapatkan pembelajaran yang dibutuhkan (accessible). Pengukuran juga dilakukan terhadap tingkat implementasi kompetensi hasil pembelajaran sebagaimana akan diukur pada komponen learner’s performance.

    3. Ruang Lingkup
    4. Komponen ini mencakup bagaimana individu, tim, dan organisasi menempatkan dirinya sebagai pembelajar. Aktivitas sebagai learners meliputi bagaimana pandangan dalam mendefinisikan kebutuhan belajarnya, pemenuhan media/metodologi pembelajaran, persepsi atas kontribusi atas hasil belajar, serta persepsi atas dukungan organisasi terhadap proses pembelajaran.

    5. Tujuan
    6. Tujuan akhir dari komponen ini adalah terciptanya pembelajar sebagai identitas di dalam organisasi, baik secara individu, tim, maupun organisasi sebagai bagian dariLearning Organization dengan ciri yang melekat, yakni: 1) memiliki inisiatif dan motivasi tinggi untuk terus belajar secara berkesinambungan; 2) aktif mencari dan/atau menggali potensi yang tersimpan di dalam diri dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berkontribusi terhadap kinerja; 3) memiliki sikap dan mental yang positif terhadap tantangan dan hal yang baru; 4) mampu menginternalisasi hasil belajar untuk pengembangan diri, tim kerja dan organisasi secara menyeluruh guna mendukung kinerja organisasi.

    7. Sub Komponen
    8. Dalam rangka mewujudkan komponen Learners sebagai bagian dari Learning Organization, terdapat tiga subkomponen yang perlu dikembangkan meliputi:
      • Individu sebagai pembelajar merupakan bagian dari Learning Organization yang mengakulturasi budaya belajar, meliputi namun tidak terbatas pada continuous learning(pembelajaran berkelanjutan), self-learning (pembelajaran atas inisiatif pribadi), dan self-mastery (kemampuan mencari atau menggali potensi yang tersimpan di dalam diri dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berkontribusi terhadap kinerja);
      • Tim sebagai pembelajar merupakan kumpulan individu pembelajar yang berkolaborasi dan memiliki visi bersama untuk meningkatkan pengetahuan kolektif dan kinerja organisasi sebagai bagian dari Learning Organization.
      • Organisasi sebagai pembelajar yang secara aktif memberikan dukungan dan memfasilitasi kebutuhan pembelajaran bagi setiap individu dalam bentuk kejelasan tujuan, kesempatan, fasilitas, wahana untuk mengaplikasikan dan/atau mengujicobakan hasil belajar, dan lain-lain.
  2. Implementasi
  3. Untuk mengembangkan identitas sebagai pembelajar diperlukan tahapan-tahapan yang idealnya bukanlah suatu proses yang bersifat formalitas namun sudah terinternalisasi atau menjadi budaya dalam suatu unit organisasi. Untuk memantik dan menjaga budaya belajar, organisasi perlu mendukung aktivitas-aktivitas guna menumbuhkan dan memelihara budaya belajar tersebut. Implementasi untuk mewujudkan learners sebagai bagian dari Learning Organization meliputi strategi dan aktivitas sebagaimana terlampir di bagian selanjutnya.

    1. Organisasi sebagai pemelajar
      1. Organisasi belajar melalui anggota organisasinya yang bertindak seperti agent untuk menciptakan pengetahuan;
      2. Para agent tersebut terdiri dari: leaders (pimpinan), Board of Director (BoD), pegawai, dan mitra;
      3. Untuk menciptakan explicit knowledge, para agent harus bekerja dan berkolaborasi dalam tim sehingga dapat berbagi pengetahuan;
      4. Karakter yang harus dibangun oleh para agent antara lain: kritis, proaktif, memiliki aspirasi tinggi, mandiri namun dapat bekerja sama;
      5. Para agen ini adalah anggota organisasi dengan tipe pemikir (thinker) yang bersedia menginvestasikan waktunya untuk menganalisa permasalahan, memiliki pola pemikiran terbuka (open-minded), serta didorong oleh nilai yang dengan kuat mereka pegang;
      6. Leaders sebagai bagian dari agent harus menunjukkan keberanian secara intelektual, kepercayaan pada orang lain, kepercayaan pada belajar seumur hidup, dan memandang kesalahan sebagai kesempatan;
      7. BoD sebagai bagian dari agent harus proaktif dengan menunjukkan keahlian/kepakaran; dan
      8. Mitra sebagai bagian dari agent perlu membantu organisasi untuk belajar melalui pengolahan dan pengujian informasi yang mereka lakukan sendiri dan menyadarkan pada kondisi lingkungan yang meminta para pimpinan untuk belajar.

      Strategi Implementasi:

      1. Organisasi mendorong anggotanya untuk secara kolektif mempertukarkan, menganalisa, mendiseminasikan, dan mengaplikasikan pengetahuan. Adapun dorongan ini selayaknya diberikan pada setiap kesempatan, seperti: kegiatan dialogue, baik one-on-one atau group discussion.
      2. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Pengembangan Community of Practices (COP);
        • Kegiatan knowledge sharing yang diselenggarakan secara rutin.
      3. Organisasi memfasilitasi implementasi budaya belajar, melalui:
        1. Dukungan terhadap inovasi guna membangun keyakinan yang mendorong munculnya gagasan-gagasan baru;
        2. Pemberian keamanan secara psikologis guna membangun keyakinan untuk bebas melakukan diskusi-diskusi;
        3. Fokus pada tujuan guna membangun keyakinan yang mendorong pengembangan tujuan;
        4. Penekanan terhadap peran pimpinan guna membangun keyakinan bahwa pimpinan mendukung adanya ide-ide baru.
        Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Unit kerja secara rutin mengadakan kegiatan gathering yang didalamnya dikomunikasikan tujuan/target organisasi dan diberi dorongan kepada setiap individu dan/atau tim untuk melakukan pengembangan diri secara berkesinambungan (misal: innovation day, lomba inovasi antar subbidang/bagian, dan lain-lain);
        • Atasan langsung turut berperan aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
      4. Organisasi membangun komitmen anggotanya untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan memberikan jaminan keamanan secara psikologis kepada anggotanya. Keamanan psikologis tersebut memberi keyakinan untuk memiliki keberanian mengambil risiko dan mengutarakan pendapat.
      5. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Unit kerja secara rutin mengadakan kegiatan gathering yang didalamnya dikomunikasikan tujuan/target organisasi dan diberi dorongan kepada setiap individu dan/atau tim untuk melakukan pengembangan diri secara berkesinambungan (misal: innovation day, lomba inovasi antar subbidang/bagian, dan lain-lain);
        • Atasan langsung turut berperan aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
      6. Organisasi melalui peran para pemimpinnya :
        1. Dukungan terhadap inovasi guna membangun keyakinan yang mendorong munculnya gagasan-gagasan baru;
        2. Pemberian keamanan secara psikologis guna membangun keyakinan untuk bebas melakukan diskusi-diskusi;
        3. Fokus pada tujuan guna membangun keyakinan yang mendorong pengembangan tujuan;
        4. Penekanan terhadap peran pimpinan guna membangun keyakinan bahwa pimpinan mendukung adanya ide-ide baru.
        Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Unit kerja secara rutin mengadakan kegiatan gathering yang didalamnya dikomunikasikan tujuan/target organisasi dan diberi dorongan kepada setiap individu dan/atau tim untuk melakukan pengembangan diri secara berkesinambungan (misal: innovation day, lomba inovasi antar subbidang/bagian, dan lain-lain);
        • Atasan langsung turut berperan aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
      7. Organisasi agile terhadap perubahan dan memanfaatkan momentum tersebut untuk pembelajaran. Pada kondisi dimana organisasi menghadapi:
        1. Dukungan terhadap inovasi guna membangun keyakinan yang mendorong munculnya gagasan-gagasan baru;
        2. Pemberian keamanan secara psikologis guna membangun keyakinan untuk bebas melakukan diskusi-diskusi;
        3. Fokus pada tujuan guna membangun keyakinan yang mendorong pengembangan tujuan;
        4. Penekanan terhadap peran pimpinan guna membangun keyakinan bahwa pimpinan mendukung adanya ide-ide baru.
        Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Unit kerja secara rutin mengadakan kegiatan gathering yang didalamnya dikomunikasikan tujuan/target organisasi dan diberi dorongan kepada setiap individu dan/atau tim untuk melakukan pengembangan diri secara berkesinambungan (misal: innovation day, lomba inovasi antar subbidang/bagian, dan lain-lain);
        • Atasan langsung turut berperan aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
    2. Tim sebagai pemelajar
    3. Belajar dalam tim memungkinkan :

      1. penggabungan aneka ragam keahlian yang relevan
      2. dihasilkannya output berdasarkan perspektif yang lebih lengkap
      3. terjadinya aktivitas berbagi pengetahuan
      4. tumbuhnya semangat belajar dan berinovasi karena adanya paradigma baru dari hasil persilangan ide
      Belajar dalam tim mensyaratkan dua hal:
      1. pertama, pemahaman bersama sebagai tim dan tindakan kolektif yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
      2. kedua, sebagai anggota tim harus paham kontribusi apa yang dapat diberikan untuk pembelajaran bersama tim

      Strategi Implementasi:

      1. Mendorong organisasi mencapai tujuan strategisnya melalui pembentukan tim belajar. Contoh model tim yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut :
        • Work-team learning
        • Team learning process
        • Group continuous learning
        • Team learning beliefs and behavior
        • Integrative Systematic team learning
        Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • CTO membentuk tim yang beranggotakan champion data analytics Kementerian Keuangan untuk mengerjakan Proyek data analytics di setiap UE I;
        • Untuk mensinkronkan agenda unit Y perlu dilakukan sinergisitas antar PIC terkait agenda unit tersebut, sehingga disusunlah kelompok kerja koordinasi penyusunan aplikasi agenda;
        • Fungsional pengawas pada unit X secara rutin belajar bersama untuk mengembangkan teknik-teknik pengawasan sesuai dengan kondisi terkini.
      2. Secara terus-menerus menggerakkan aktivitas belajar di dalam tim dengan metode belajar, seperti: briefing, mentoring, meeting, job rotation, kerja sama tim, inquiry, konsultasi, reading assignment, monitoring, studi banding, belajar dari organisasi lain, belajar dari mitra, belajar dari pengalaman, dan pelatihan.
      3. Contoh menggerakan aktivitas belajar tim melalui project team-based action learning antara lain:
        • Menyusun rencana project yang disesuaikan dengan sasaran strategis yang akan dicapai melalui action learning project.
        • Membangun tim yang bersifat lintas unit dan memperhatikan keragaman keahlian.
        • Menetapkan keanggotaan, tugas, dan peran masing-masing anggota tim sehingga anggota tim paham dengan baik tugas dan perannya, memiliki kesadaran terhadap tujuan bersama, dan berani untuk berbeda pendapat.
        • Menugaskan pejabat struktural/fungsional sebagai reviewer project.
        • Menunjuk pimpinan dengan keahlian yang relevan untuk berperan sebagai coach dan/atau mentor.
        • Menyusun linimasa project, pelaksanaan project sedapat mungkin selaras dengan pelaksanaan tugas dan pekerjaan rutin.
        • Tim mengidentifikasi kebutuhan pengetahuan dan menyusun rencana pembelajaran yang akan dilakukan untuk mendukung pelaksanaan project.
        • Melakukan knowledge sharing atas pengetahuan yang tercipta pada setiap tahapan proses implementasi project. Hal ini dilakukan selain agar tercipta proses pembelajaran yang efektif dan kolaboratif juga terjadi proses transfer pengetahuan baik di dalam tim maupun kepada pegawai lain yang terkait.
        • Setelah project dilaksanakan, tim menyusun laporan pelaksanaan project, individu menyusun laporan analisis pembelajaran apa saja yang didapat individu pegawai selama melaksanakan project.
        • Melakukan proses dokumentasi terhadap semua proses melalui action learning project dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, rencana pembelajaran, dan hasilnya (termasuk inovasi yang mengemuka) sebagai keseluruhan pengetahuan yang diperoleh dari pelaksanaan melalui action learning project. Dokumentasi ini juga mencakup penyempurnaan atas proses dan hasil dari proses sebelumnya, sehingga terjadi continuous improvement atas hasil-hasil yang sudah tercipta tersebut.
        • Pemanfaatan dan pemanfaatan kembali pengetahuan yang dihasilkan dari seluruh proses pelaksanaan action learning project.
    4. Individu sebagai pemelajar
      1. Belajar secara individual memungkinkan masing-masing anggota organisasi untuk belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya, gaya belajarnya, dan kebutuhan belajarnya
      2. Belajar secara individual memungkinkan masing-masing individu untuk memiliki rencana aksi dan tujuan belajar dengan menerjemahkan tujuan organisasi dan arahan pimpinan serta menggali potensi dan kebutuhan pengembangan diri menjadi suatu learning development plan yang disertai dengan upaya individu melakukan proses membangun (creating), mendapatkan (acquiring), memindahkan (transferring) pengetahuan kemudian mengubah perilaku
      3. Individu sebagai pembelajar dipengaruhi 3 kondisi dalam organisasi, yaitu : konteks pembelajaran, kebijakan pembelajaran di tempat kerja, dan identitas kelembagaan terhadap pembelajaran

      Strategi Implementasi:

      1. Individu mengidentifikasi, menyusun dan mengimplementasikan personal development plan, yang merefleksikan pemahaman utuh atas kebutuhan pengembangan kompetensinya dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan pengembangan kompetensi tersebut, terutama atas inisiatif pribadi (self-learning), dalam rangka budaya belajar berkelanjutan (continuous learning).
      2. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu dapat menyeleksi sumber dan metodologi pembelajaran yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya (mentoring, coaching, free access e-learning/ microlearning, Penugasan Pelatihan/ PJJ/ e-learning, membaca buku-buka/ jurnal/ literatur/ self-funded training program, dll).
        • Misalkan, Individu X adalah pegawai di Kemenkeu di Pusdiklat A yang bertugas untuk melakukan pengembangan kompetensi SDM di bidang Keuangan Negara lainnya. Setelah membaca visi misi organisasi yang diturunkan dari tingkat Kemenkeu hingga ke satuan kerjanya dan mendapatkan arahan serta berdiskusi dengan komponen leaders dan peers di tempat kerjanya, X menyusun kebutuhan pembelajaran yang diharmonisasikan dengan rencana pembelajaran yang akan ditempuh dalam sebuah catatan career & learner’s journals. Termasuk didalamnya, karena kebutuhan individu yang memahami pengolahan data dan analisisnya semakin meningkat, X merencanakan pengembangan diri kearah tersebut.

      3. Individu secara rutin mengalokasikan waktu untuk belajar dari berbagai sumber, baik pembelajaran terstruktur maupun tidak terstruktur untuk mendukung kinerjanya, tim dan organisasi.
      4. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu dapat menyeleksi sumber dan metodologi pembelajaran yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya (mentoring, coaching, free access e-learning/ microlearning, Penugasan Pelatihan/ PJJ/ e-learning, membaca buku-buka/ jurnal/ literatur/ self-funded training program, dll).
        • Individu mengalokasikan waktu untuk melakukan pembelajaran dengan sumber dan metodologi pembelajaran yang dianggap sesuai, seperti namun tidak terbatas pada:
          1. Individu membaca buku-buku dan jurnal guna menambah pengetahuan untuk efisiensi proses kerja;
          2. Individu mempelajari cara-cara mengoptimalisasi aplikasi office dengan memanfaatkan Visual Basic (VB) untuk otomatisasi event;
          3. Individu mengikuti konferensi secara online; dan
          4. Individu secara rutin mempelajari cara-cara menyusun infografis untuk melaporkan kegiatan.
          Misalkan, Individu X menyeleksi sumber dan metodologi pembelajaran terkait pengolahan data yang tepat baginya, salah satunya membaca buku/literatur terkait pengolahan data. Individu tersebut kemudian mengalokasikan waktu untuk membaca buku/literatur terkait pengolahan data.
      5. Individu memiliki perspektif dan sikap mental yang positif terhadap tantangan, perubahan dan inovasi serta memiliki motivasi dan inisiatif untuk turut menciptakan sesuatu bagi organisasi secara menyeluruh.
      6. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu antusias dan terbuka dengan proses pembelajaran dan tantangan-tantangan baru, baik untuk memperbaiki tugas dan fungsinya maupun hal lain untuk menunjang target organisasi dengan tetap mempertimbangkan work life balance;
        • Misalkan, individu X menerima tantangan tugas baru dari atasannya terkait pengolahan data. Kemudian, guna mendapatkan hasil yang optimal, individu X aktif berdiskusi dengan peers dan mencari masukan dari unsur leaders untuk mendapatkan saran dan masukan yang membangun.

      7. Individu secara aktif mempelajari dan mengimplementasikan hasil belajar (diantaranya: cara-cara baru dalam bekerja yang lebih baik).
      8. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu X mencoba menggunakan kombinasi google sheet dan data studio untuk optimalisasi pengolahan data sebagai implementasi hasil belajar dari Program Pelatihan Pengolahan Data dan Visualisasi Pelaporan;
        • Individu X mempelajari secara mandiri dari berbagai literatur terkait cara mengoptimalisasikan handphone sebagai pengganti kamera notebook supaya tampilan pada online meeting lebih baik dan mengimplementasikannya dalam tugas keseharian.
      9. Individu meningkatkan kinerja Tim Kerja dan Organisasi melalui eskalasi dari implementasi hasil belajarnya.
      10. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu X mencoba menggunakan kombinasi MS Excel dan google data studio untuk optimalisasi pengolahan data sebagai implementasi hasil belajar dari Program Pelatihan Pengolahan Data dan Visualisasi Pelaporan dan menciptakan suatu dashboard yang memudahkan unit kerjanya untuk melakukan pemantauan;
        • Setelah Individu X berhasil mengoptimalisasikan handphone sebagai pengganti kamera notebook dan mengimplementasikannya dalam tugas keseharian. Individu X membagi ilmu tersebut kepada mitra/tim kerjanya melalui diskusi secara aktif Ketika berkegiatan.
      11. Individu mendokumentasikan implementasi hasil belajar (baik success maupun failure) untuk menjadi lesson learned yang kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan berbagi pengetahuan dan/atau penyebarluasan lesson learned tersebut ke tim kerja maupun organisasi secara menyeluruh.
      12. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu menulis pada forum Community of Practice terkait proses belajarnya dan mencari masukan terkait kebutuhan perbaikan. Misalkan, individu X secara aktif berdiskusi dan memberikan masukan pada forum Community of Practices terkait MS Excel;
        • Individu menjadi pembicara dalam kegiatan-kegiatan terkait sharing knowledge/discussion. Misalkan, individu X menjadi pembicara pada mini class yang diadakan di lingkungan kantornya;
        • Individu mendokumentasikan dalam bentuk video/tulisan/bentuk lain yang dapat diakses oleh setiap orang di suatu organisasi. Misalkan, individu X menyusun artikel terkait cara mengoptimalkan MS Excel untuk visualisasi data supaya bisa lebih mudah dicerna.
      13. Individu dapat menjadi inspirasi, mendorong dan mendukung orang lain untuk berkembang dan mempelajari hal-hal yang baru.
      14. Contoh aktivitas terkait point ini, antara lain:
        • Individu menjadi pembicara dalam kegiatan-kegiatan terkait sharing knowledge/discussion. Misalkan, individu X menjadi pengajar pada pelatihan terkait MS Excel untuk visualisasi data;
        • Individu memiliki kontribusi untuk turut menciptakan budaya belajar. Misalkan, individu X menjadi penggiat adanya sharing session rutin guna membantu peningkatan literasi data dan analisis data di organisasinya.