Open Class Asset Tracing dan Aspek Hukumnya: Melalui Jejak Digital Bisa Dilacak Ke Mana Larinya Uang Hasil Kejahatan

[Yogyakarta] 21 Desember 2018. Istilah asset tracing (penelusuran aset) biasanya terkait dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Namun sebetulnya istilah tersebut juga dikenal di bidang perpajakan. Asset tracing merupakan salah satu teknik pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mengetahui apakah terdapat harta (aset) yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan.

Menilik hal tersebut, maka asset tracing sebetulnya memiliki peran dalam mengoptimalkan penggalian potensi perpajakan.

Peran signifikan asset tracing tersebut melatarbelakangi Balai Diklat Keuangan (BDK) Yogyakarta untuk mengadakan open class yang bertema “Asset Tracing dan Aspek Hukumnya”. Open class tersebut terutama ditujukan bagi para pegawai pajak, baik untuk account representative yang terkait dengan penggalian potensi pajak maupun untuk fungsional pemeriksa pajak. Open class yang berlangsung pada hari Kamis 6 Desember 2018 tersebut menghadirkan narasumber dari kepolisian yaitu Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus), Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Komisaris Besar Drs. Gatot Agus Budi Utomo. Open class diikuti oleh 61 peserta yang berasal dari pegawai kementerian keuangan sebanyak 55 orang dan pegawai non kementerian keuangan sebanyak 6 orang.

berita72aBertempat di Aula BDK Yogyakarta, kegiatan open class dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Penyelenggaraan BDK Yogyakarta Casuri. Dalam sambutannya Casuri menyampaikan bahwa dalam open class tersebut BDK Yogyakarta telah mengundang narasumber yang memiliki kompetensi terkait dengan asset tracing. Untuk itu Casuri berharap para peserta dapat memanfaatkan kegiatan open class tersebut untuk berdiskusi langsung dengan narasumber dan menyampaikan permasalahan yang dihadapi terkait dengan asset tracing.

“Silahkan bapak/ibu mengambil kesempatan ini untuk bertanya dan berdiskusi langsung dengan narasumber, jadi jangan hanya terpaku dengan materi pemaparan yang ditayangkan saja” kata Casuri.

Setelah dibuka secara resmi kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber dengan dimoderatori oleh Widyaiswara BDK Yogyakarta Agus Suharsono atau yang biasa dipanggil dengan Gushar. Sebelum narasumber memaparkan materinya, Gushar mengawali dengan memperkenalkan narasumber kepada para peserta.

“Mohon maaf bapak/ibu, karena narasumber kita ini adalah Direktur Reserse maka tidak banyak informasi yang bisa kami sampaikan mengenai beliau”, ucap Gushar dengan disambut tawa dari para peserta.

Selanjutnya Gushar juga berharap agar setelah selesai penyampaian materi oleh narasumber, para peserta dapat memanfaatkan untuk bertanya kepada narasumber mengenai permasalahan yang dihadapi.

“Kami harapkan nanti para peserta harus bertanya kepada narasumber, karena lebih baik bertanya kepada pak polisi daripada ditanya pak polisi”, lanjut Gushar dan lagi-lagi disambut tawa dari seluruh peserta. Sesaat kemudian Gushar mempersilahkan narasumber untuk menyampaikan paparannya.

Sementara itu, mengawali pemaparannya, narasumber open class Kombes Drs. Gatot Agus Budi Santoso mengingatkan tentang pentingnya asset tracing.

berita72b

“Semua kejahatan terutama kejahatan yang terkait dengan keuangan negara, umumnya diikuti upaya untuk menyamarkan hasi kejahatannya, untuk mempersulit penyidik dan mengelabuhi penegak hukum agar tidak ketahuan ke mana hasil kejahatannya disembunyikan. Untuk itu butuh kemampuan dari seorang penyidik untuk mencari dan menelusurinya. Kebanyakan asset tracing terkait dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), dan mungkin juga tindak pidana dibidang perpajakan”, ucap Gatot mengawali paparannya.

Menurut Gatot, banyak cara ditempuh oleh para pelaku kejahatan untuk menyembunyikan uang dari hasil kejahatannya.

berita72c“Ada yang simpan di bank dengan mengatasnamakan orang lain, ataupun dibelikan suatu barang/benda dengan atas nama orang lain juga. Ada yang uangnya disimpan di dalam tembok rumahnya. Ini semua karena pelaku sudah bingung akan dikemanakan uang hasil kejahatannya tersebut”, jelas Gatot.

Namun demikian, Gatot menilai bahwa perkembangan teknologi cukup membantu untuk menelusuri atau melacak tempat persembunyian harta hasil kejahatan.

“Pada era digital seperti sekarang ini, sebetulnya semua mudah dilacak. Dengan kemampuan teknologi, melalui jejak-jejak digital bisa dilacak kemana larinya uang. Ketika orang mentransfer ke salah satu rekening, kita bisa ikuti, dan setelah di rekening itu uang dibuang ke mana, kita bisa ikuti. Jadi ke mana arah uang kita bisa ikuti”, lanjut Gatot.

Peserta open class tampak sangat antusias mengikuti penjelasan-penjelasan dari narasumber, karena memang terkait dengan tugas sehari-hari. Pada sesi tanya jawab, cukup banyak pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh peserta kepada narasumber.

 

Paling Banyak Dibaca

  • Menggagas Bentuk Birokrasi 4.0 +

    Oleh Siko Dian Sigit Wiyanto Dunia sudah memasuki era revolusi industri 4.0 yang merupakan kelanjutan revolusi industri 3.0. Revolusi industri Baca Selengkapnya
  • Amunisi Baru untuk Pelatihan Dasar CPNS Kementerian Keuangan 2019 +

    (Jakarta) – Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2019 segera datang di bulan Januari. Pelatihan yang Baca Selengkapnya
  • Kepala BPPK Taruh Harapan Besar pada Pranata Komputer dan Widyaiswara Baru +

    Jakarta, 18 Januari 2019. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) kembali melantik sejumlah pejabat fungsional, Jumat (18/1/2019) di Gedung B Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016