Jl. Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
ditulis oleh -
Jumat, 19 Desember 2014 04:27 WIB

Abstrak

Model soal pilihan ganda adalah bagian dari bentuk tes objektif. Bentuk tes objektif memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya yang utama mengatasi kelemahan dari bentuk tes esai atau tes subjektif. Terhadap kelemahan-kelemahan dari tes objektif, terdapat beberapa hal yang dapat diimplementasikan untuk menguranginya. Selanjutnya, sebagai suatu bagian dari tes objektif, model soal pilihan ganda memiliki variasi yang menjadi keunikannya. Keunikan ini juga menjadi kekuatannya sehingga tes ini mampu digunakan untuk mengukur kemampuan peserta tes pada jenjang yang tinggi. Variasi model tes pilihan ganda ini jarang dieksplorasi sehingga pengenalan akan model soal pilihan ganda hanya terbatas pada pilihan ganda biasa yang memang lebih terbatas.

 

Kata Kunci

Tes objektif, soal pilihan ganda, pokok soal, pilihan jawaban, pengecoh, penyusun soal, peserta tes.

 ?Central Queensland University (CQU) di Rockhampton,Australia, menghapus model soal pilihan ganda untuk ujian akhir? demikian berita yang disampaikan oleh situs berita detik.com pada tanggal 24 September 2014, dikutip dari ABC News. CQU melalui Wakil Rektornya, Profesor Rob Reed, menyampaikan bahwa model soal pilihan ganda mereka anggap tidak mampu menguji pengetahuan para mahasiswa. Model soal pilihan ganda hanya menguji ingatan dan menguji kemampuan menebak para mahasiswa. Selain itu, model soal ini juga dianggap tidak otentik karena tidak sesuai dengan proses pengambilan keputusan sesungguhnya dalam kehidupan nyata. Pada kehidupan nyata, manusia diperhadapkan dengan pengambilan keputusan yang prosesnya dilalui dengan mencari jawaban yang tepat dari dalam pikirannya, bukan dengan mencari jawaban yang paling tepat dari daftar jawaban yang tersedia. Lebih lanjut dalam pernyataannya, Profesor Rob Reed mengatakan bahwa dengan menghilangkan model pertanyaan pilihan berganda ini diharapkan mahasiswa akan lebih terdorong untuk belajar.

Bentuk Tes Objektif

Model soal pilihan ganda adalah salah satu model soal dalam kategori bentuk tes objektif, selain model soal benar-salah, menjodohkan, dan isian pendek. Pemberian istilah bentuk tes objektif  sendiri, berasal dari sudut pandang cara pemeriksaannya, yaitu bahwa dalam pemeriksaannya bentuk tes ini dilakukan secara objektif (Arikunto, 2009). Yang dimaksud dengan pemeriksaan secara objektif adalah karena setiap soal dalam tes objektif memiliki satu jawaban pasti. Jawaban yang pasti ini membuat proses pemeriksaan hasil ujian menjadi relatif lebih mudah. Pemeriksa hasil ujian tes objektif tidak terbatas hanya pengajar yang bersangkutan saja. Bahkan, pemeriksaan hasil ujian tes objektif dapat dilakukan dengan bantuan alat pemindai dan komputer. Bantuan alat elektronik ini membuat selembar hasil tes objektif hanya mengalami proses pemeriksaan dalam hitungan detik.

Bentuk tes objektif muncul untuk mengatasi kelemahan utama bentuk tes esai atau uraian, yaitu proses pemeriksaan hasilnya sangat dipengaruhi oleh kondisi pemeriksa (tingkat subjektivitasnya tinggi). Selain itu, proses pemeriksaan hasil tes bentuk ini memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan pemeriksaan tes objektif. Pemeriksa bentuk tes ini pun terbatas hanya oleh yang mendalami bidang ilmu yang diujikan ditambah dengan pemahaman atas kurikulum dan tujuan pembelajarannya.

Selain keunggulan, layaknya segala hal hasil ciptaan manusia, bentuk tes objektif juga memiliki beberapa keterbatasan atau kelemahan. Dari sisi fungsi tes sebagai instrumen evaluasi, kelemahannya adalah bentuk tes ini cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja. Bentuk tes ini sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi (Arikunto, 2009). Proses mental yang tinggi dapat diartikan sebagai proses kognisi atau proses pemahaman pengetahuan yang mendalam dan kompleks. Kelemahan kedua dari sisi fungsinya sebagai instrumen evaluasi adalah peserta tes dapat menebak jawaban ketika tidak mengetahui jawaban yang benar dari soal. Dari sisi proses penyusunan soal, tes objektif lebih sulit disusun daripada tes esai. Untuk menghasilkan soal tes objektif yang baik, perlu pengetahuan yang cukup untuk menyusun pokok soal dan/atau pengecoh yang tepat.

Profesor Suharsimi Arikunto, pakar evaluasi pendidikan Indonesia menyatakan bahwa kelemahan-kelemahan tes objektif dapat diminimalisasi dengan beberapa cara. Yang pertama, penggunaan tabel spesifikasi. Penggunaan tabel ini sangat penting dalam proses penyusunan soal. Tabel spesifikasi dikenal juga dengan  kisi-kisi soal. Kisi-kisi soal memuat informasi tentang pokok bahasan untuk penyusunan soal yang disertai dengan informasi jenjang kemampuan yang akan dituju (Andriani, 2012). Kita dapat menggunakan acuan Taksonomi  Bloom untuk menyebut jenjang kemampuan yang dituju. Adanya kisi-kisi membantu dalam penyusunan soal yang tepat sasaran. Yang kedua, penggunaan tabel spesifikasi perlu didukung oleh tingkat keterampilan yang mumpuni dari penyusun soal. Kerumitan dalam menyusun soal tes objektif dapat berkurang dengan semakin seringnya penyusun soal berpraktik menyusun soal. Penyusun soal yang terampil mampu menyusun soal untuk jenjang kemampuan yang tinggi dalam taksonomi bloom (Andriani, 2012). Jenjang kemampuan yang tinggi identik dengan tingkat pemahaman pengetahuan yang mendalam dan kompleks. Yang ketiga, norma penilaian hasil dapat dimodifikasi untuk mengurangi kecenderungan menebak dari para peserta ujian. Salah satu contoh modifikasi norma penilaian adalah dengan memberi skor minus pada jawaban yang salah.

Model Soal Pilihan Ganda

Sebagai bagian dari bentuk tes objektif, pilihan ganda adalah model soal yang paling populer. Pilihan ganda merupakan model soal yang terdiri atas dua bagian utama, yaitu pokok soal dan pilihan jawaban. Ada empat variasi bentuk dari model pilihan ganda, yaitu: hubungan antar hal, kasus, asosiasi, dan pilihan ganda biasa.

Pilihan ganda jenis hubungan antar hal, pokok soal disusun dengan pola pernyataan-SEBAB-pernyataan.  Soal pilihan ganda jenis ini dapat digunakan untuk mengukur jenjang kemampuan pemahaman (C2) dan jenjang kemampuan tinggi seperti jenjang analisis (C4) dan sintesis (C5) (Arikunto, 2009). Berikut contoh soal jenis hubungan antar hal untuk mengukur jenjang kemampuan analisis.

  • Pokok soal:
  • Pilihan jawaban:

Evaluasi penyelenggaraan tidak mampu mengukur peningkatan kinerja organisasi

SEBAB

Evaluasi penyelenggaraan merupakan jenis penelitian kepuasan pelanggan.

  1. pernyataan benar, alasan benar, dan alasan merupakan sebab dari pernyataan
  2. pernyataan benar, alasan benar, dan alasan bukan merupakan sebab dari pernyataan
  3. pernyataan benar tetapi alasan salah
  4. pernyataan salah tetapi alasan benar
  5. pernyataan salah dan alasan salah
  6. Merekomendasikan bidang penyelenggaraan untuk memberi pengarahan yang lebih informatif mengenai diklat ini.
  7. Merekomendasikan Bagian TU untuk mengintensifkan petugas pemeriksa konsumsi dalam menjalankan tugasnya. 
  8. Merekomendasikan Bagian TU untuk memberi surat peringatan kepada rekanan katering.
  9. Merekomendasikan Bagian TU untuk menegur rekanan katering secara lisan. 
  10. Mengabaikan informasi dari hasil rekapitulasi ini.
  11. Petunjuk:
  12. Pokok soal berupa pernyataan atau pertanyaan
  13. Pilihan jawaban:

Pilihan ganda jenis kasus berbeda dengan soal kasus pada bidang ilmu sosial. Jika soal kasus pada bidang ilmu sosial merupakan soal yang tidak memiliki kunci jawaban yang eksak, model soal pilihan ganda jenis kasus memiliki jawaban yang eksak. Jenis ini dinamakan ?kasus? karena menuntut proses berpikir berjenjang. Jenis soal ini biasanya menggunakan kelengkapan diagram, gambar, tabel, dan kelengkapan lain pada pokok soalnya. Jenis soal ini dapat digunakan untuk mengukur jenjang kemampuan pemahaman dan jenjang kemampuan tinggi. Berikut contoh soal dari jenis ini.

REKAPITULASI EVALUASI PENYELENGGARAAN DTU KESAMAPTAAN

Item

Nilai

Kategori

Jumlah

Konsumsi

2,86

Cukup

Tidak Baik

Kurang Baik

Cukup

Baik

Sangat Baik

Kuantitas

3,12

Cukup

5

15

26

26

4

Variasi

2,46

Kurang Baik

12

30

21

13

0

Layanan

3,01

Cukup

3

13

42

16

2

REKAPITULASI EVALUASI TATAP MUKA DTU KESAMAPTAAN

Konsumsi

18 orang dari 30

Variasi konsumsi kurang (monoton)

2 orang dari 30

Menu yang disajikan kurang menggugah selera

2 orang dari 30

Agar tidak diberikan air isi ulang sebagai air minum untuk siswa

Berdasarkan data rekapitulasi evaluasi penyelenggaraan dan rekapitulasi evaluasi tatap muka Diklat Kesamaptaan khusus item konsumsi, apakah rekomendasi yang paling tepat menurut Anda?

Model soal pilihan ganda asosiasi sama seperti model soal pilihan ganda lainnya, terdiri atas pokok soal dan pilihan jawaban. Akan tetapi pada jenis ini, petunjuk pengerjaan soal menjadi sangat penting karena pilihan jawaban yang ditulis pada lembar jawaban harus mengikuti rumusan pada petunjuk pengerjaan soal.  Pola soal pada jenis ini adalah sebagai berikut.

Pilih A jika (1), (2) dan (3) benar
Pilih B jika (1) dan (3) benar
Pilih C jika (2) dan (4) benar
Pilih D jika hanya (4) yang benar
Pilih E jika semuanya benar

Model soal pilihan ganda biasa adalah jenis soal yang biasa kita kenal. Jenis soal ini memiliki beberapa variasi. Variasi dalam pokok soal yaitu bentuk pernyataan dan bentuk pertanyaan. Sedangkan variasi dalam pilihan jawabannya, yaitu: satu jawaban benar, satu jawaban terbaik, bentuk analogi, dan jawaban salah (Tayibnapis, 2008). Soal jenis ini banyak digunakan untuk menggali ingatan peserta tes terkait materi pembelajaran. Ini disebabkan karena menyusun soal untuk menggali ingatan relatif lebih mudah bagi penyusun soal. Padahal, jenis soal ini dapat digunakan untuk mengukur pemahaman peserta tes. Memang untuk menyusun soal yang dapat mengukur pemahaman, memerlukan usaha yang lebih dari penyusun soal.

Kesimpulan

Model soal pilihan ganda jauh lebih kaya dari sekedar jenis pilihan ganda biasa. Kekayaan model soal pilihan ganda jarang dijelajah, sehingga model soal pilihan ganda hanya dikenal pada jenis pilihan ganda biasa. Pilihan ganda biasa pun jarang dimaksimalkan penggunaannya. Pada akhirnya, model soal pilihan ganda hanya dikenal sebagai model soal yang tidak mampu menjadi instrumen evaluasi pembelajaran yang sakti, yang mampu mengukur kemampuan sampai pada jenjang kemampuan yang tinggi.

Penjelajahan dan pemaksimalan model soal berhulu pada kemauan dan kemampuan dari para penyusun soal. Kemampuan penyusun soal didapat dari ketekunan mengasah keterampilan sampai benar-benar mahir menyusun soal yang berfungsi baik. Alah bisa karena biasa. Mari berlatih menyusun soal model pilihan gandadan mari menyusun norma penilaian hasil yang tepat agar soal pilihan ganda tidak hanya sekedar menjadi arena asah kemampuan menebak dari peserta tes.

Daftar Pustaka

Universitas Central Queensland Hapus Model Pertanyaan Pilihan Ganda. (2014, September 24). Dipetik December 9, 2014, dari www.detik.com: http://news.detik.com/read/2014/09/24/100920/2699368/1513/universitas-central-queensland-hapus-model-pertanyaan-pilihan-ganda

Andriani, D. (2012). Bahan Ajar Mata Diklat Pengembangan Kisi-kisi Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Pusdiklat Keuangan Umum.

Arikunto, S. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Tayibnapis, F. Y. (2008). Evaluasi Program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.