Jl. Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
ditulis oleh -
Selasa, 17 Februari 2015 22:38 WIB
Oleh : Widyarini, S.Psi.
Widyaiswara BDK Malang

 

Abstrak :  Tidak semua kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita dapat kita terima dengan mudah. Ada kalanya kita mengalami peristiwa-peristiwa yang sangat menyakitkan atau menakutkan, hingga membuat kita merasa sangat berduka dan menderita.  Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima kejadian-kejadian yang tidak dikehendakinya. Dr. Kubler-Ross menjelaskan tahapan-tahapan yang dilalui seseorang dalam menghadapi penderitaan. Tahapan itu meliputi penolakan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan akhirnya tahap penerimaan (acceptance). Tahapan-tahapan tersebut tidak selalu terjadi secara berurutan pada semua orang. Ada orang-orang tertentu yang mampu menerima sebuah kejadian ?buruk? dengan mudah. Dengan cepat mind-set mereka  mengubah musibah menjadi anugerah. Dengan demikian mereka dapat move-on dengan cepat. 

 Kata kunci : penderitaan, shock, denial, anger, bargaining, depression, acceptance , mind-set

             Selama hidup kita entah sudah berapa banyak peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan telah menimpa kita . Kejadian-kejadian tersebut membuat kita terpuruk dan berputus asa, atau setidaknya membuat kita berduka dan tertekan. Sebuah realitas atau suatu peristiwa sebenarnya bersifat netral. Masing-masing individulah yang memberikan makna atas realitas-realitas atau peristiwa-peristiwa tersebut. Hasil dari pemaknaan terhadap realitas atau peristiwa yang ditangkap oleh indera, kemudian dipersepsikan (diberi makna) dan menghasilkan respon-respon emosional seperti kaget, marah, sedih, takut, muak ataupun takjub dan gembira. Apapun hasil pemaknaan tersebut ?memaksa? individu untuk mau menerima realitas atau peristiwa tersebut,, suka ataupun tidak suka. Dalam perjalanan penerimaan, individu mengalami beberapa fase atau tahapan pengalaman emosional, sebelum akhirnya dapat menerima sebuah kenyataan.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menjalani tahapan dan melakukan penyesuaian diri atau beradaptasi terhadap peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dalam hidupnya. Tulisan ini bermaksud  menjelaskan tahapan-tahapan yang dilalui oleh individu saat menghadapi peristiwa-peristiwa yang menyedihkan tersebut hingga akhirnya ia dapat ?berdamai? dan menerima peristiwa tersebut dengan baik. Penjelasan dalam tulisan tentang tahapan dalam move on ini berdasarkan pada konsep yang dikemukakan oleh Dr. Kubler-Ross tentang 5 (lima) tahapan saat mengalami penderitaan / kedukaan (grief), yaitu ? Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance (DABDA).  Dengan mengetahui tahapan yang dilalui oleh seseorang dalam mengatasi rasa duka dan kesedihannya, maka kita menjadi lebih mudah memahami diri kita sendiri maupun untuk membantu kita dalam merespon secara tepat kondisi kedukaan atau kesedihan orang lain. Contohnya saat seseorang sedang dalam kondisi emosi kemarahan (anger), maka akan sulit bagi dia untuk menerima saran atau nasehat. Sehingga saat kita sedang marah, maka sadarilah dengan segera dan redakan dulu kemarahannya, baru kita dapat ?mendengar? pendapat, saran dan nasehat orang lain. Demikian halnya saat kita menghadapi orang yang sedang marah, maka kita tidak perlu buru-buru memberi nasehat kepadanya. Karena hampir pasti dia akan menolaknya, bahkan dapat meningkatkan kemarahannya. Berikut adalah lima tahapan yang dikemukakan oleh Dr. Kubler-Ross. 

Denial (Penyangkalan)

Menurut Dr. Kubler-Ross, saat seseorang mengalami peristiwa yang dimaknainya sebagai kejadian yang tidak diharapkan, mengecewakan, menyedihkan atau merasakan sebuah kehilangan, maka reaksi pertamanya adalah penyangkalan atau denial. Penyangkalan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri (ego) yang umum ditemukan saat seseorang terkejut atau shock saat mendapati dirinya berhadapan dengan situasi yang sama sekali tidak dikehendakinya. Mekanisme ini terjadi secara ?otomatis? tanpa disadarinya. Mekanisme penyangkalan memberikan rasa aman yang sifatnya sementara atau sesaat. Setidaknya melindungi diri dari rasa sakit karena mengalami peristiwa pahit ataupun dari rasa kehilangan yang mengejutkan dan menakutkan. Kadang-kadang penyangkalan disertai pula dengan upaya penghindaran.

Menghadapi seseorang yang sedang dalam fase penyangkalan dibutuhkan kesabaran dan konsistensi dalam memberi informasi-informasi yang relevan dengan peristiwa yang dialami. Dengan banyaknya informasi yang memperkuat ?kebenaran? sebuah peristiwa, akan memaksa seseorang menghadapi kenyataan yang terjadi. Membiarkan seseorang menyangkal secara terus-menerus justru akan ?menyesatkan?-nya. Kesalahpahaman tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya akan dapat memunculkan delusi atau keyakinan tentang sesuatu hal yang akan dipegang secara kuat, meskipun tidak ada bukti akurat yang mendukung keyakinannya tersebut.

 

Anger (Kemarahan)  

            Seseorang tidak dapat terus-menerus menyangkal, menghindari atau menolak sebuah peristiwa atau kenyataan. Suka atau tidak, kenyataan itu harus dihadapinya. Fase kemarahan merupakan kelanjutan dari fase penyangkalan. Saat seseorang berada pada fase ini, ia sudah mulai menyadari bahwa sebuah peristiwa itu nyata adanya (tahu akan kebenaran kenyataannya). Kesadaran akan kenyataan yang sedang dihadapinya  menimbulkan rasa kemarahan dan mungkin pula menimbulkan rasa ketakutan bahkan frustasi. Kemarahan ataupun ketakutan yang dialaminya seringkali dilampiaskannya kepada orang-orang disekitarnya. Kemarahan yang dialami dapat diekspresikan dalam bentuk perilaku agresif secara fisik ataupun berupa ekspresi verbal (kata-kata) untuk melampiaskan kemarahannya. Biasanya kemarahan juga disertai dengan sikap menyalahkan pihak-pihak lain di luar dirinya, ataupun mungkin menyalahkan dan marah kepada dirinya sendiri, Yang paling ?parah? adalah ketika mereka menyalahkan Tuhan. Jika ?ledakan? emosinya mereda, pada umumnya orang tersebut merasa sedikit lega. Setidaknya sebagian ?energi? kemarahannya  telah tersalurkan.

            Menghadapi seseorang yang sedang dalam fase penyangkalan dan kemarahan harus dilakukan dengan hati-hati. Seseorang yang sedang marah butuh didengarkan dan diterima.  Oleh karena itu, menjadi pendengar yang empatik dan sikap penerimaan yang penuh dengan kesabaran merupakan jurus jitu dalam menghadapi orang yang sedang berada dalam fase kemarahan. Hendaknya kita tidak memaksa dia untuk mendengarkan pendapat, nasehat dan saran dari kita. Jika kita melakukannya, maka umumnya hal itu akan membuatnya bertambah marah. Dia butuh dimengerti bukan diajak untuk adu argumentasi.

Bargaining (tawar menawar)

            Setelah seseorang melewati fase kemarahan, berikunya adalah usaha menawar. ?Kalau bisa jangan aku yang mengalaminya?? Sebuah ungkapan penolakan, namun merasa tidak memiliki daya untuk menolaknya. Perasaan lemah dan ketidakberdayaan, mungkin akan memunculkan rasa penyesalan. Rasa penyesalan dan bersalah terhadap diri sendiri merupakan sebuah mekanisme normal untuk menghadapi perasaan duka. Bisa jadi pada fase ini, ia berandai-andai, ?kalau saja aku ??. tentu aku tidak akan mengalami hal ini?.? . atau ? kalau saja aku tidak melakukan itu ?.. tentu hal ini tidak akan menimpaku?? Rasa penyesalan dalam fase bargaining, merupakan sebuah usaha meredakan rasa sakit dan ketakutan yang mau tidak mau harus dia hadapi.

            Meskipun belum stabil sepenuhnya, seseorang dalam fase ini sudah tampak lebih tenang dan menunjukkan sikap yang sedikit melunak. Bukan karena dia sudah dapat menerima kenyataan, namun lebih karena rasa ketidakberdayaan yang dialaminya. Sikap dukungan dapat kita tunjukkan dengan cara membantu dia ?meluruskan? cara pandang, cara berpikir dan cara dia merasakan peristiwa tersebut. Sedikit demi sedikit kita berikan informasi-informasi dan beberapa argumentasi alternatif yang dapat membantunya melihat kenyataan yang dihadapi. Fase bargaining dan fase anger, bisa overlapping, dimana satu sama lain terjadi secara silih berganti (bolak-balik). Ketidakberdayaan dan penyesalan dapat membangkitkan kembali kemarahannya, dan ketika kemarahan mereda maka timbul rasa sesal dan ketidakberdayaan lagi.


Depression (depresi)

            Perasaan sesal dan ketidakberdayaan kemudian akan diikutin dengan perasaan tertekan atau ?nelongso? (dalam bahasa Jawa).  Ketika seseorang berhadapan dengan kenyataan yang disadarinya tidak dapat dihindari, sementara dia tidak memiliki daya untuk melawan atau mengubah kenyataan tersebut, maka orang itu mulai merasakan kehilangan  harapan dan rasa keputusasaan. Fase ini merupakan titik terendah dalam dinamika emosi yang disebabkan karena rasa penderitaan yang dialami oleh seseorang. Tidak ada penolakan, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak punya Iagi daya untuk menghindari, yang dirasakan hanya kesedihan yang teramat sangat. Seseorang dalam fase ini biasanya tidak banyak bicara dan cenderung menarik diri dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Kegagalan seseorang dalam melewati fase ini dapat berakibat fatal, yaitu munculnya keinginan untuk bunuh diri. Untuk itu perlu ada orang lain yang dapat membantu menguatkannya. Hindari sikap menghakimi, karena hal ini akan memperparah depresinya.

Orang-orang yang sedang berada pada fase ini sangat membutuhkan dukungan, sikap empatik  dan dorongan untuk menghadapi kenyataan yang ada sekalipun terasa sangat menyakitkan. Secara perlahan-lahan kita juga dapat mulai membantunya untuk menemukan kembali kekuatan dari dalam dirinya dan membangkitkan kembali ?energi? atau gairah hidupnya.  Jika seseorang berhasil  melewati fase depresi dengan baik, hingga dia dapat bangkit kembali maka fase berikutnya adalah penerimaan.

Acceptance (penerimaan)

            Setelah lelah bergelut dengan kenyataan pahit yang berusaha diingkarinya, pada akhirnya orang akan dapat menerima kenyataan. Dalam fase ini bukan berarti rasa sakit dan pahitnya hilang, namun ia sudah mulai menerima / terbiasa dengan rasa tersebut. Ia mulai merelakan diri menerima penderitaan yang menimpanya dan mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Lambat-laun rasa kesakitan dan ketakutan tidak dipikirkan atau dirasakan secara sadar, rasa itu seolah-olah memudar dan akhirnya semua kembali seperti biasa lagi. Ingat, hal ini bukan berarti dia lupa dengan kejadian yang menimpa atau rasa penderitaan yang dialaminya. Dia akan tetap dapat mengingat peristiwanya, namun makna dan rasa yang menyertai peristiwa itu sudah berbeda dari saat pertama kali bertemu dengan peristiwa tersebut.

            Ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang sudah mampu menerima kenyataan secara lapang dada, maka saat itulah moment yang ?pas? untuk memberi nasehat dan saran,. Kita juga dapat membantunya membuka dan menemukan kemungkinan-kemungkinan  atau alternatif-alternatif baru. Setelah melewati semua tahapan itu, kini saatnya untuk move-on!!.

Biasanya orang-orang yang telah berhasil sampai pada fase menerima, dan berhasil move-on akan memiliki ambang batas  rasa penderitaan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena selama seseorang mengalami tahapan-tahapan atau fase-fase tersebut terdapat berbagai pengalaman emosional yang menyertainya, Diantaranya adalah : terkejut, perasaan bersalah, keputusasaan, stress, penolakan, kebingunan, ketidakberdayaan, penolakan, kemarahan, ketidakpercayaan, kesedihan, kesepian, menyalahkan diri sendiri, depresi, kesakitan, perasaan malu, tidak memiliki harapan, kematian rasa, perasaan tertinggal dan kecemasan. Keberhasilan seseorang dalam melewati perjalanan emosionalnya akan dapat meningkatkan daya tahan psikisnya terhadap ?penderitaan? yang sama, atau dapat menggunakan pengalaman tersebut saat menghadapi ?penderitaan? lain dimasa yang akan datang.

Sesungguhnya kepedihanmu akan penolakan-Nya itu terjadi  karena tidak ada pemahamanmu tentang Alla di dalamnya. ? Ketika Dia telah membukakan pemahaman kepadamu akan arti penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu menjadi anugerah

(Ibn ?Athaillah)

       
          Tahapan-tahapan yang dikemukanan diatas adalah fase-fase yang umumnya dialami oleh seseorang dalam penerimaan terhadap kejadian atau kenyataan yang dipersepsikannya sebagai penderitaan. Apakah semua orang pasti mengalami seluruh tahapan itu secara berurutan ? Tentu saja tidak !. Ada orang-orang tertentu yang dapat memotong tahapan atau meloncati fase-fase tersebut. Diantaranya adalah orang-orang yang sudah matang secara fisik dan mental, maupun secara emosional dan rasional. Orang-orang inilah yang biasa kita sebut sebagai orang yang ?sudah kenyang makan asam garam kehidupan?, sehingga mereka memiliki daya tahan dan kekebalan yang luar biasa terhadap penderitaan.

Disamping itu adalah orang-orang yang memiliki mind-set yang positif. Mereka adalah orang-orang yang dapat move-on dengan cepat, karena mereka percaya bahwa dibalik peristiwa itu pastilah ada hikmahnya. Kebahagiaan dan kesedihan itu hanyalah masalah sudut pandang, kita sendirilah yang menciptakan makna dari realitas itu.  Demikian pula halnya dengan mereka yang memiliki keyakinan dan sikap religius yang kuat. Keyakinan terhadap kebaikan yang selalu ada dalam setiap ?ketetapan? Tuhan. Keyakinan religius semacam ini membuat mereka mudah menerima kejadian apapun yang menimpanya. Dengan demikian, dari saat pertama indera mereka menerima sensasi (melihat, mendengar dan merasakan sebuah peristiwa), maka mereka dapat langsung ke menuju ke fase penerimaan. Kesimpulan : Jadi, kalau dapat meloncat, mengapa harus merayap ?  Dengan begitu kita dapat segera  move-on dengan sukses. ?Selamat Datang di Dunia yang Baru?

  

Referensi :

El ?Ashiy, Abdurrahman, Ibn ?Athaillah, al-Hikam untuk semua : Menemukan Kesadaran dan Pelita Hidup dari Nasihat Ibn ?Athaillah, Hikmah Polpuler, 2009

Nikolay, Hingdranata, Be Happy : Get What You Want, Gramedia Pustaka Utama, 2012

Julie Axelrod, The 5 Stages of Loss and Grief ,  http://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/000617

----------, The Five Stages of Grief , The Responses to Loss That Many Peple Have, http://grief.com/the-five-stages/