Jl. Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Jumat, 31 Desember 2021 14:22 WIB

Disusun oleh :

Arwandha Prawirantri

Assessor SDM Aparatur Muda, Pusdiklat PSDM, BPPK

 

Pendahuluan

Musibah atau bencana adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan dapat terjadi kapan saja. Begitu pula ketika pandemi Covid-19 melanda, membuat rasa duka terjadi secara masif diseluruh belahan dunia. Dampak yang diakibatkan seperti penurunan kondisi kesehatan, rasa duka akibat kehilangan sanak keluarga dan juga masalah ekonomi akan mempengaruhi kesehatan mental individu. Perubahan secara tiba-tiba dalam berbagai aspek kehidupan dapat menimbulkan stress pada diri seseorang baik dengan gejala ringan maupun berat. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh PPM Manajemen kepada 2500 pegawai diseluruh Indonesia, 80% responden menyatakan mengalami gejala stress dikarenakan musibah Covid-19.[1]

Pandemi Covid-19 juga berdampak pada perubahan cara bekerja. Mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan sebagai hal utama, organisasi menerapkan cara bekerja dari rumah atau lebih dikenal dengan istilah Work from Home (WFH) selain cara bekerja biasa yang dilakukan dari kantor atau Work from Office (WFO). Penerapan WFH dan WFO memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Khususnya dengan menerapkan WFH, rasa khawatir akan ancaman virus dapat berkurang seiring dengan berkurangnya kontak dengan orang luar. Menurunnya frekuensi bekerja di kantor juga akan mengurangi kelelahan yang biasa dialami setiap hari akibat waktu dan jarak yang harus ditempuh ke kantor. Selain itu, akan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan keluarga. Namun demikian bekerja dari rumah tidaklah mudah. Meningkatnya waktu kebersamaan dengan keluarga menimbulkan konsekuensi terbaginya fokus untuk mengurus keluarga. Selain itu, sudah tidak ada lagi batasan waktu yang jelas antara urusan pekerjaan dan pribadi, termasuk mengerjakan tugas pada waktu istirahat mupun hari libur. Tekanan dan tuntutan terus menerus untuk menyelesaikan tugas kantor sekaligus tugas rumah, dan ditambah dengan permasalahan lainnya dapat mengakibatkan timbulnya burnout dimana individu mengalami kelelahan yang berkepanjangan baik fisik maupun mental. Survei yang dilakukan oleh CNNIndonesia.com menunjukkan kondisi pegawai harus siaga 24 jam menjadi alasan terbanyak yang menyebabkan burnout yaitu 46,7%, diikuti dengan peningkatan beban kerja sebanyak 38,7%.[2]

 

Peran Kompetensi Mengelola Perubahan

Bagi seorang pegawai, menerapkan sikap profesional dalam mengelola kehidupan pribadi dan pekerjaan bukanlah hal mudah. Menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan yang kritikal dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan kerja tidak hanya kontribusi dari diri sendiri namun juga dukungan dari lingkungan. Hal ini selaras dengan salah satu kompetensi manajerial yaitu kompetensi Mengelola Perubahan, yang dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan Aparatur Sipil Negara didefinisikan sebagai "kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan situasi yang baru atau berubah dan tidak bergantung secara berlebihan pada metode dan proses lama, mengambil tindakan untuk mendukung dan melaksanakan insiatif perubahan, memimpin usaha perubahan, mengambil tanggung jawab pribadi untuk memastikan perubahan berhasil diimplementasikan secara efektif". Ketika dihadapkan dengan tuntutan perubahan, pegawai diharapkan mampu menyadari, menerima dan mengikuti perubahan baik dengan bantuan orang lain maupun secara mandiri. Pegawai diharpkan dapat menyesuaikan cara kerja dan mengembangkan kemampuan dirinya untuk dapat beradaptasi mengikuti perubahan. Tidak hanya dalam lingkup pribadi saja, upaya penyesuaian terhadap perubahan juga dilakukan melalui langkah antisipasi atau bahkan menginisiasi perubahan kepada orang lain maupun organisasi dalam lingkup yang lebih luas.

 

Wise Compassionate Leadership Style

Ketika pegawai sedang mengalami permasalahan tentunya diharapkan organisasi dapat memahami, menunjukkan kepedulian dan menerapkan kebijakan yang tepat bagi pegawai. Dalam situasi seperti ini, diharapkan fokus organisasi tidak hanya pada penyelesaian tugas pegawai (task) namun juga kondisi kesehatan fisik dan mental pegawai (people). Bagaimana organisasi memperlakukan pegawainya juga tercermin dari sikap atasan atau pimpinan dalam mengelola bawahan. Kemudian apa yang harus dilakukan oleh seorang atasan atau pimpinan ketika bawahannya mengalami kedukaan, stress, atau burnout? Bagaimana agar dapat menjaga moral pegawai untuk tetap dapat bersikap positif?

Dalam sebuah artikel yang dituliskan oleh Nielsen, D'Auria, dan Zolley (2020) dari Mckinsey & Company disebutkan bahwa dalam situasi krisis berkepanjangan seperti pandemi Covid-19, seorang pemimpin perlu memiliki 4 (empat) hal dalam dirinya untuk dapat membantu pegawai yang sedang mengalami situasi krisis dan juga memulihkan organisasi yaitu awareness, vulnerability, empathy, dan compassion.[3] Pertama, pemimpin perlu menyadari sepenuhnya apa yang terjadi di lingkungan sekitar (awareness) dan bersikap terbuka dalam menunjukkan sisi rapuh dalam dirinya sebagai seorang manusia biasa ketika mengadapi sebuah masalah (vulnerability), dimana hal ini akan membantu pemimpin untuk memahami dan merasakan apa yang dialami bawahan (empathy) dan kemudian dapat menunjukkan perhatian dan belas kasih pada bawahan (compassion).[4]

Compassion atau rasa belas kasih memiliki peranan penting dalam menjaga moralitas pegawai agar tetap positif terutama dimasa krisis. Sejumlah studi menunjukkan organisasi dengan compassionate leaders memiliki pegawai yang lebih kolaboratif, saling percaya dan berkomitmen pada organisasi.[5] Namun belas kasih saja tidaklah cukup, terdapat komponen lain yang menjadi kunci dari compassionate leadership, yaitu wisdom atau kebijaksanaan yang menunjukkan adanya rasa pengertian yang mendalam tentang apa yang memotivasi pegawai dan bagaimana mengelola pegawai untuk tetap dapat memenuhi prioritas yang telah disepakati bersama.[6] The Wise Compassion Leadership Matrix yang dikemukakan oleh Hougaard dalam Harvard Business Review menggambarkan 4 gaya kepemimpinan. Pada tipe 1 Caring Avoidance, atasan menunjukkan rasa empati dan belas kasih yang besar, namun tidak berani atau sungkan untuk meminta komitmen bawahan dalam menyelesaikan tugas. Hal ini berpotensi pada risiko tidak terselesaikannya tugas pegawai dan berdampak pada kinerja organisasi. Pada tipe 2 Wise Compassion, atasan dapat mengintegrasikan sikap belas kasih terhadap bawahan yang mengalami krisis dengan upaya menjaga tanggung jawab bawahan dalam menyelesaikan tugas, tentunya dengan tetap memperhatikan secara tulus kondisi bawahan. Pada tipe 3 dan 4, atasan mengetahui kondisi bawahan namun perhatian lebih ditunjukkan pada penyelesaian tugas ketimbang kondisi bawahan.

 


  Mengembangkan gaya kepemimpinan Wise Compassion dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: 1) meningkatkan self-compassion, yaitu mengasihi diri sendiri. Hal ini menjadi pondasi penting karena rasa kasih yang tulus kepada orang lain dimulai dari rasa kasih terhadap diri sendiri. Berikan kebahagiaan dan penuhi kebutuhan diri sendiri dengan baik; 2) memahami niat yang ada dalam diri, yaitu sejauh mana kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Adapun kita terlebih dahulu perlu belajar menempatkan diri kita dalam posisi orang lain sehingga kita dapat memahami apa yang orang lain butuhkan; dan 3) menerapkan rasa kasih dalam kehidupan kerja sehari-hari, dimana hal ini akan membantu menginternalisasi nilai kasih dalam setiap tindakan atau kebijakan yang diambil.[7]


 Penutup

Perubahan baik dalam skala kecil maupun besar seperti yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 akan memberikan dampak bagi pegawai dan organisasi. Upaya untuk beradaptasi terhadap perubahan memerlukan kerjasama antara pegawai dan organisasi termasuk didalamnya atasan atau pimpinan. Atasan dalam hal ini dapat menerapkan prinsip yang tercantum dalam kompetensi Mengelola Perubahan melalui gaya kepemimpinan wise compassion, yang menyeimbangkan antara pemahaman dan kepedulian yang tulus terhadap kondisi personal pegawai dan juga upaya menjaga tanggung jawab pegawai dalam menyelesaikan tugasnya. Dengan adanya rasa belas kasih diharapkan pegawai mampu melalui masa sulit dengan baik dan tetap berkomitmen terhadap pekerjaan, sehingga organisasi dapat berjalan dengan baik.


[1] Ratu Eneng Kusumaningrat, "Compassionate Leadership dalam situasi pandemi" https://swa.co.id/swa/my-article/compassionate-leadership-dalam-situasi-pandemi (diakses pada 29 Desember 2021, pukul 16.59)

[2] cnnindoensia.com, "Antara pandemic Covid-19, Kerja, dan Burnout" https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210820182352-260-683182/antara-pandemi-covid-19-kerja-dan-burnout (diakses 30 Desember 2021 pukul 22.31)

[3] Nicolai Chen NielsenGemma D?Auria, dan Sasha Zolley, "Tuning in, turning our outward: cultivating compassionate leadership in a crisis" https://www.mckinsey.com/business-functions/people-and- organizational-performance/our-insights/tuning-in-turning-outward-cultivating-compassionate-leadership-in-a-crisis (diakses pada 29 Desember 2021, pukul 17.26)

[4] Ibid.

[5] Rasmus Hougaard, Jacqueline Carter, dan Jason Beck, "Assessment: Are You a Compassionate leader?" https://hbr.org/2018/05/assessment-are-you-a-compassionate-leader (diakses pada 31 Desember 2021, pukul 12.20)

[6] Rasmus Hougaard, Jacqueline Carter, dan Nick Hobson, "Compassionate Leadership Is Necessary - but Not Sufficient" https://hbr.org/2020/12/compassionate-leadership-is-necessary-but-not-sufficient (diakses pada tanggal 29 Desember 2021, pukul 17.42)

[7] Ibid.