Jl. Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
ditulis oleh Admin BDK Denpasar
Kamis, 09 Januari 2020 12:44 WIB


oleh Gathot Subroto

(Widyaiswara BDK Denpasar)

 

Ketika kita bepergian atau travelling, masalah bahasa biasanya akan menjadi ?momok? atau masalah utama ketika kita berinterkasi dengan sesorang atau penduduk setempat. Pun juga ketika kita ingin mengambil gambar atau memotret seseorang yang kita temui, seringkali kita merasa ragu atau tidak pede dalam berkomunikasi atau melakukan pendekatan personal.

Tetapi tahukah anda bahwa sebenarnya bahasa itu sangat universal. Dan bahasa itu tidak didominasi oleh bahasa verbal saja, tetapi juga oleh bahasa non verbal. Dan yang lebih mencengangkan ternyata keberhasilan komunikasi justru didominasi oleh bahasa non-verbal. Hampir 60 % keberhasilan komunikasi ditentukan oleh bahasa non verbal, 30 % oleh intonasi suara atau vocal dan bahasa verbal tinggal tersisa 10 %.
Dari penelitian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita tidak perlu merasa nggak pede atau ragu untuk membangun komunikasi dengan siapapun di tempat-tempat yang kita kunjungi. Setidaknya saya sendiri selalu dapat merasa pede ketika ingin memotret seseorang dengan membangun komunikasi terlebih dahulu, baik ketika travelling di negeri sendiri ke berbagai daerah atau beberapa kali bepergian ke luar negeri.

 

3 MAGIC WORDS

Tiga kalimat yang paling penting dalam membangun komunikasi yang popular adalah, terima kasih (thank you), maaf (sorry) dan tolong (please). Tetapi untuk bepergian seperti travelling atau hunting foto sedikit saya modifikasi tiga kata ajaib tersebut sebagai : halo, apa kabar? (Hello, How are You?), Maaf (I?m sorry) dan terima kasih (thank you).

Setiap orang, siapapun dia, akan lebih merasa dekat ketika kita ajak bertegur sapa dengan bahasa (daerah) mereka, meskipun kita mengucapkan terbata-bata atau sedikit salah dalam pengucapan mereka akan lebih menghargai kita. Kuasailah minimal tiga sapaan tersebut dalam bahasa local tempat yang akan kita kunjungi, dan rasakan keajaiban dalam diri kita bahwa kita akan lebih pede dalam mendekati orang dan mereka akan lebih mudah akrab dengan kita. Dengan membangun komunikasi terlebih dahulu kita akan lebih mudah untuk memotret tanpa membuat mereka marah atau curiga terhadap kita. Misalkan ketika kita bepergian ke Bali kita perlu membiasakan sapaan ?Kenken kabare bli/mbok?? untuk menanyakan kabar, atau mengucapkan ?matur suksma? ketika bilang terima kasih, atau ketika kita pergi ke India kita akan selalu menyapa orang dengan ?nameste?? dan mengucapkan terima kasih dengan ?sukriya?.
Mengapa kita begitu repot menyiapkan komunikasi sedemikian rupa, padahal kita hanya bermaksud memotretnya? Dalam memotret people, hal utama yang harus kita bedakan dengan memotret subjek yang lain adalah masalah personality.  Orang Jawa selalu bilang bahwa kita harus selalu nguwongke uwong, atau kalau diterjemahkan bebas menjadi ?mengorangkan orang?. Bahwa kita tidak hanya akan memotret wajah dan tubuhnya saja tetapi juga jiewa, emosi dan karakternya, itulah mengapa kita perlu membangun komunikasi dan mengakrabkan diri kita, meski hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

 

BODY LANGUAGE

Bahasa tubuh selanjutnya akan menjadi kunci utama ketika kita membangun komunikasi. Kita perlu membiasakan diri berlatih menggunakan tubuh kita ketika berbicara atau berkomunikasi dengan orang. Ketika kita menyampaikan sesuatu kita menambahkan gerakan-gerakan wajah, tangan dan badan kita dengan gerakan-gerakan terbuka, menandakan bahwa kita menyampaikan sesuatu dengan hangat dan terbuka. Sebaliknya ketika kita mendengarkan penjelasan dari lawan bicara kita, kita harus menunjukkan bahwa kita memberi perhatian dengan seksama dengan menggunakan bahasa tubuh dengan memposisikan tangan lebih menyatu ke badan, serta wajah yang konsentrasi memperhatikannya. Ingat, selalu biasakan anda menggunakan bahasa tubuh anda ketika berbicara.
Selanjutnya anda juga perlu belajar memahami bahasa tubuh yang menjadi cirikhas dari tempat yang kita tuju, misalkan ketika di Jepang ketika mengucapkan terima kasih atau selamat tinggal kita perlu membungkuk agak dalam beberapa kali, ketika di India kita harus menggeleng untuk mengatakan iya atau ketika di Thailand kita sebaiknya menangkupkan telapak tangan kita ketika bertemu atau mengucapkan terima kasih. Jangan heran pula ketika bertemu dengan orang arab, kemudian anda dirasa sudah akrab dengan mereka, tiba-tiba janggut anda dipegang-pegang oleh mereka.

 

Saya mempunyai hobi fotografi. Bahkan saat berpergian hampir selalu saya lakukan untuk kegiatan hunting foto. Percaya atau tidak, hampir semua foto yang saya hasilkan, terutama untuk memotret orang, tercipta dengan dukungan total bahasa tubuh yang saya lakukan ketika saya berkomunikasi atau mengarahkan mereka ketika saya potret. Meskipun saya tidak memahami bahasa mereka (kecuali 3 sapaan ajaib tadi) dan sebaliknya, ternyata dengan bahasa tubuh saya dapat akrab dan memotret mereka dengan baik.

Sebagai contoh ketika saya berlajan disebuah monastery di Kamboja, seorang biksu muda terlihat melihat saya dari sebuah jendela, dari jauh saya teriak halo dan dengan mengangkat dua tangan saya tinggi-tinggi, kemudia dia tertawa dan saya potret, dan hasilnya adalah biksu tersebut hanya terlihat sebagai siluet karena dia di dalam ruangan sementara saya di luar jendela. Untuk meminta dia melongokkan kepalanya keluar jendela saya menggunkan kode menunjuk kepla saya sendiri kemudian saya gerakkan kedepan, beberapa kali hingga biksu muda tersebut mengetahui maksud saya dan kemudian melongokkan kepalanya keluar, selanjutnya saya minta dia menangkupkan telapak tangan, dan akhirnya saya mendapatkan foto dengan pose sebagaimana yang saya mau.

 

JADIKAN MEREKA TEMAN

Sekali lagi, hal yang paling penting ketika memotret orang saat kita hunting foto atau pun travelling adalah membangun komunikasi. Perlakukan mereka seperti teman kita, sebagaimana kita juga menginginkan hal yang sama misalkan kita bertemu wisatawan ketika daerah kita dikunjunginya. Perlihatkan beberapa jepretan kita yang menarik kepada mereka, kalau mereka menginginkan gambarnya kita cukup bertukar email, dan ?penuhi janji? anda ketika anda berjanji mengirimnya.
Kalau kita memotret penjual cindera mata, tetap kita berprinsip jadikan mereka teman, kita boleh memberi cinderamata dari mereka sekaligus untuk oleh-oleh setelah tawar menawar tentunya, dan setelah akrab kita bisa meminta izin untuk mengambil gambar. Atau ketika kita mengunjungi resyoran atau tempat makan, selagi kita menjadi pelanggannya manfaatkan waktu tersebut untuk berkenalan dan membangun komunikasi, kemudian kita bisa minta izin untuk memotretnya, atau memotret dapurnya, segala sesuatu akan menjadi menarik ketika pertam kali kita melihatnya.

 

Dari berbagai pengalaman ketika melakukan travelling, justru kemampuan non-teknis seperti membangun komunikasi yang saya share, yang lebih menentukan keberhasilan kita dalam mendapatkan gambar-gambar terbaik. Dengan kita akrab dengan mereka maka kita akan lebih leluasa dalam melakukan pemotretan, juga memilih angle atau memposisikan diri kita untuk mendapatkan titik pemotretan terbaik, juga decisive moment yang mungkin terjadi kita akan dapatkan gambarnya. Seringkali saya memilih mode semi otomatis seperti Mode A (Aperture Priority), yang setelah saya memilih ISO yang paling aman, saya tinggal menentukan aperture-nya dan kamera yang akan menentukan kecepatan rana-nya. Dengan begitu konsentrasi dan otak saya lebih banyak saya gunakan untuk mencari angle-angle yang akan membangun komposisi-komposisi kreatif serta bersiap menangkap momen yang mungkin terjadi, dan mungkin hanya berlangsung sepersekian detik. "Ram ram sa" (Terima Kasih : Rajasthani)

 


 

 





Artikel Terbaru
Pola Komunikasi Internal Instansi Pemerintah
Pola Kerja Instansi Kehumasan Era Delayering
Bauran Media Komunikasi untuk Efisiensi yang Optimal