Jl. Purnawarman No 99 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
ditulis oleh Admin BDK Denpasar
Senin, 13 Januari 2020 14:28 WIB

Oleh Gathot Subroto

(Widyaiswara BDK Denpasar)

 

SEBAGAI pemotret sejak jaman film hingga era digital saat ini, tentu ikut merasakan perkembangan industri fotografi, termasuk industri tripod. Sama seperti para pehobi fotografi yang mulai berkenalan dengan peralatan fotografi saat ini, saya juga mengalami masa ketika ingin memiliki tripod hanya sekedar punya-punyaan yang bahkan untuk membelinya sekedar memilih di toko kamera berdasar informasi hanya dari penjaga toko tersebut.


Sekitar tahun 1994 ketika memiliki duit sendiri dan membeli kamera Nikon F-801s bekas di Bursa Kamera Profesional ? Wisma Benhil (Wisma Benhil-nya sudah Almarhum dan BKP beberapa kali pindah tempat di seputaran Pasar Benhil), saat itu saya memilih membeli Manfrotto Seri 725B DIGI seingat saya ballhead-nya nggak bisa dilepas dari tripod-nya, pokoknya beli dan merk-nya Manfrotto. Meskipun saat itu jarang memotret landscape tetapi masa fotografer nggak punya tripod sih. Tripod ini tersimpan lama hingga saya masuk ke era digital ketika membeli Nikon D100 sekitar tahun 2003.

 

Tahun 2005 ketika mau menunaikan ibadah haji, saya berfikir untuk membawa kamera yang lebih ringan serta tripod yang lebih ringan, akhirnya saya membeli Nikon D50 beserta Tripod Traveler saya pertema kali Velbon seri Ultra (lagi2 lupa serinya), yang jelas cukup ringkas untuk saya masukkan di bagian samping Lowepro Slingshoot saya. Saat itu mungkin pilihan terbaik yang tersedia di pasaran untuk para treveler. Bentuknya kurang lebih sekarang mirip Velbon Ultra TR 465M.

 


Masalah kejengkelan terhadap tripod muncul ketika saya mulai keranjingan motret landscape dan bermain filter-filter landscape. Suka duka bermain filter saya akan tulis tersendiri nantinya, tunggu yahhh.

Ketika untuk memotret serius dengan Nikon D200, Manfrotto legendaris saya ternyata tidak cukup stabil. Terutama saat memotret berformat portrait nangis darah deh ?

Dari beberapa diskusi di fotografer.net saya memutuskan untuk membeli tripod yang lebih kuat dan rekomendasi jatuh lagi-lagi Manfrotto ?gebuk maling? lengkap dengan 3ways Head-nya, dari tongkrongannya jangan tanya deh gagah dan super keren. Sayang saya search di internet sudah nggak ketemu lagi gambar tongkrongannya, ketemu seri yang lebih barunya kurang lebihnya seperti Manfrotto MT-294A3. Lengkap dengan tas tripod-nya yang legendaris mirip dengan tas

golf karena benjol di atas.

 

Ketika hunting foto utamanya landscape jangan ditanya beratnya seberapa yah, belum lagi digabung dengan tas kamera berisi dua bodi DSLR dengan beberapa lensa. Bahkan ketika ikut Crossing Bridges 2006 ke Sa Pa, Vietnam saya bersama Stephanus Hannie dengan gagah berani trekking dengan tas besar dan tripod gebuk maling ini, naik turun gunung dan masuk ke perkampungan. Saat itu 3ways Head sudah saya pasangi ballhead Gitzo 3780QR.


Ternyata oh ternyata, ballhead mahal bukan jaminan, ketika saya pakai nge-landscape dengan Nikon D2X saya, pada saat format portrait, quick release yang ada tidak cukup kuat untuk menggigit kamera saya, alhasil foto slowspeed saya gagal total semuanya. Mulai frustasi dehhh. Dari obrolan dengan temen-temen yang tergabung di JPC (Jakarta Photo Club), mereka menyarankan untuk memakai tripod karbon, yang dibilang ringan namun kuat. Saat itu brand tripod yang mempunyai carbon series hanya Gitzo, dan saya sudah menyerah di awal dengan brand ini, yang non carbon saja mahal apalagi yang carbon, saat itu Gitzo Carbon termurah sekitar 7-8 juta rupiah. Bubar jalan dehhh ?

Setelah sekian lama bersabar akhirnya ada titik terang saat saya ikut trip ke Belitung bersama JPC, sekitar awal tahun 2007, beberapa teman memakai tripod carbon yang bukan Gitzo, saya amat-amati ternyata merk-nya Velbon, wow ? surprised.

 

 

Dan saya mendapatkan informasi mereka belinya di Toko Fax Nusantara (cikal bakal-nya Focus Nusantara) di bilangan Tol Kebon Jeruk. Karena saya sering di Solo (empat tahun saya berkantor di Solo) saya menelpon Fax Nusantara untuk membeli Velbon El-Charmagne. Ada yang bikin saya kaget waktu itu, ternyata barangnya dikirim duluan baru nanti ditagih kemudian dan saya transfer. Toko ini gendheng saya pikir, untuk customer baru yang belum kenal, beli barang via telepon, main kirim saja dan baru ditagih kemudian. Dari situlah saya mulai mengenal Pak Hartono Kurniawan Halim sebagai orang yang special, unik sekaligus baik hati.


Dengan harga sekitar 3.5 juta rupiah saat itu menjadi tripod carbon yang termurah yang ada di pasaran. Saat itu tripod ini menjadi sangat popular di kalangan fotografer, bahkan ketika hunting dapat saling bertukar tripod tanpa harus melepas ?quick release plate? karena semua memakai ballhead dan tripod yang sama (saat itu belum popular memakai L-Plate dan ball head dengan quickrelease yang custom). Saking jatuh cintrong-nya dengan seri ini, saya membeli El-Charmagne seri yang dibawahnya (carbon juga dong) agar dapat masuk tas kabin pesawat dengan ballhead dilepas tentu saja. Masalah apakah terselesaikan semua ? Ternyata belum juga sih. Seiring dengan dengan semakin gilanya saya nge-landcsape setelah menemukan filter Hoya ND400 (sekitar pertengahan 2007) maka tentu saja menuntut permainan eksposure yang lebih ekstrim. Di sinilah lagi-lagi ballhead masih yang ada masih belum dapat memenuhi harapan saya yang semakin rewel, terutama untuk format portrait dan long exposure yang ekstrim. Meski untuk tripod saya sudah jatuh cinta mati dengan Velbon El-ElCharmagne Series. Dari pencarian itulah akhirnya saya membeli Ballhead Really Right Stuff (RRS) BH-40 lengkap dengan L-plate untuk Nikon D3 dan D300 untuk saya pasangkan dengan Velbon saya. Dari 2007 sampai 2009 saya telah menemukan pasangan tripod yang ideal untuk menemani saya ber-landscape ria. Meski kalau ditotal jenderal menghabiskan dana yang tidak sedikit.

Permasalahan kemudian muncul, harga tripod di pasaran bergerak naik, Velbon Carbon yang tadinya lumayan dapat dijangkau perlahan semakin jauh dari jangkauan kantong bagi para fotografer, terutama yang masih baru berkenalan dengan fotografi.

Sekitar tahun 2009 muncullah beberapa merk baru buatan China, seperti sahabat saya Pak Budi Darmawan, memakai tripod carbon dengan merk Benro yang dibeli di Chatay Photo Singapore, desain dan logo-nya sangat Gitzo banget, dengan harga yang sangat miring di bawah 2 juta rupiah, Wowww. Dari banyak pengalaman saat itu meski dibeli dengan harga yang sangat murah, tetapi produk China secara umum mempunyai kelemahan di quality control dan tidak adanya after sales service. Artinya begitu kita dapat bad product atau kerusakan saat pemakaian, ya habis itu wassalam. Sampai pada pertengahan tahun 2009, Pak Hartono Kurniawan Halim dengan Focus Nusantara-nya menjadi distributor resmi brand baru SIRUI, dengan banyak banget pilihan model dan harganya dan garansi hingga 6 tahun. Saya saat itu memilih SIRUI T 1205X generasi pertama dengan satu kakinya yang dapat dijadikan monopod, sangat inovatif. Dan saat itu tripod carbon ini dapat dibeli dengan harga di bawah 2 juta rupiah, WTF ... tripod carbon dengan asesoris lengkap, di bawah 2 juta rupiah?? Gileeee ...

 


Sekedar informasi tripod tersebut masih bertahan sampai saat ini (dengan perawatan yang baik tentu saja, seperti direndam serta dicuci saat habis dipakai terutama kalau kena air laut dan disemprot anti karat pada bagian-bagian tertentu) tentu saja dengan dukungan after sales service PT. Focus Nusantara.

Sejak saat itu saya menjadi kolektor SIRUI Tripod, mulai dari seri N-2205x untuk landscape serius, seri T 025X Carbon untuk traveling hingga Table Top Series 3T35 untuk dibawa kemana-mana dan berselfie ria dengan kamera Fujifilm Mirrorles saya, seperti X-A2 dan X-70. Banyak faktor yang menjadikan SIRUI layak dikoleksi, selain karena pilihannya banyak, tersedia baik yang aluminium ataupun yang carbon, harganya relatif terjangkau, layanan purna jual yang baik, kepercayaan serta hubungan baik yang sudah terbangun dengan distributor sekaligus dealernya yaitu Toko Kamera Focus Nusantara.

 

Nah, seiring dengan berkembangnya industri fotografi, inovasi dan desain tripod pun berkembang pula. Tentu saja ini berakibat persaingan di industri ini semakin ketat, nah kita sebagai fotografer akan menikmati kondisi ini dengan semakin banyaknya tripod yang tersedia di pasaran, dengan inovasi-inovasi baru serta dengan harga yang semakin affordable. Beberapa brand baru mulai masuk ke pasaran Indonesia seperti Jusino, Vanguard, Highlights, Fotopro, dan lain lain. Kalau Sirui untuk traveler mengandalkan seri T005 dan 025 (Alumunium dan Carbon), Fotopro juga membuat seri traveler ringkas seperti seri X4CN, sedikit lebih compact dengan bahan yang sama alumunium dan carbon. Secara tongkrongan hampir sama, dengan aksen desain yang berbeda, dengan harga yang sedikit lebih miring sekitar 1.8 juta rupiah untuk yang carbon series full asesoris. Tripod ini untuk ukuran traveler tripod lumayan ringkas dengan panjang saat diringkas hanya dua kali tinggi Iphone 6 Plus. Sangat pas untuk traveler dengan kamera mirrorless atau DSLR new level entry, dengan desain yang tidak murahan.

 

Dengan semakin banyaknya pilihan serta semakin ramainya pasar fotografi di Indonesia, rasanya para distributor harus lebih kreatif lagi untuk menarik minat para customer, dan ingat harga bukan menjadi satu-satunya alasan bagi customer untuk mempercayai sebuah brand dan produk. After sales service, ketersediaan spare parts, kenyamanan berbelanja, dan terutama membina hubungan baik dengan customer juga menjadi bagian dari pemasaran modern saat ini untuk membangun kepercayaan dan kesetiaan customer terhadap brand, toko atau produk yang dijualnya. Bukan tidak mungkin saat ini, teknik promo dan bundling juga dilakukan untuk perlengkapan fotografi menyusul teknik ini juga sudah dipakai dalam penjualan kamera digital sebelumnya.

 

Bagaimana dengan inovasi?

Seperti halnya industri telepon selular, industri fotografi juga semakin cepat untuk menawarkan inovasi-inovasi baru terhadap pasar.  Bagi sebagian konsumen inovasi mungkin menjadi satu alasan tersendiri untuk mengganti dan membeli perlengkapan fotografinya. Sekitar tahun 207 pertengahan lalu saya jalan-jalan ke Mangga Dua dan mampir ke Toko Witacom di Dusit Mangga Dua, acaranya mau membeli strap jam tangan Fenix 3 Garmin saya dan sekedar ngobrol plus nongkrong sambil membunuh waktu menunggu istri berbelanja di ITC.


Saya nggak sengaja memegang tripod carbon (karena carbon saya penasaran untuk memegangnya) sedikit unik secara sekilas karena tidak ada karet pembatas antar section-nya, hanya ada satu karet di ujungnya. Merk-nya saya puter-puter nggak ketemu, hanya ada tulisan HIGHLIGHTS kecil, di setiap pangkal kakinya, ternyata memang merk-nya Highlights. Merk apa lagi ini ? (dalam hati saya).

 

 

Selanjuntya saya didemonstrasikan inovasi yang ada di pada tripod Highlights Seri HL-CT1 tersebut. Ujung karet di setiap kaki-nya diputar untuk kemudian bisa dipanjangkan dan dikunci dengan sekali gerakan, ahaiii ? asik juga ini inovasinya. Sebagai orang yang sering nge-landscape di pantai, sungai, danau, lumpur dll saya spontan protes, ?Wah gak praktis ini lah, kalau ngaturnya harus dari ujung bawah, tangan harus naik turun jongkok untuk mengatur ketinggian serta keseimbangan tripod, belum lagi kalua harus kena air, pasir atau lumpur.?

?Eitss, tunggu dulu pak,? kata pelayan tokonya, kalau mau disesuaikan kita dapat memutar dan mengencangkan di setiap batang section-nya ternyata, wah asik juga ini inovasinya.


Tripod ini mampu menopang 10kg beban di atasnya berdasar info dari pelayan tokonya. Bagi yang tertarik untuk memilikinya, minta tolong sekalian untuk dites yak, apa bener dapat menahan beban 10kg beneran. Uniknya lagi tripod ini dapat dipreteli setiap kakinya untuk dapat dijadikan monopod, tinggal copot salah satu kakinya dan juga copot ball head-nya jadi dehh monopod. Bagi fotografer traveler yang senang membawa tripod untuk ditaruh di dalam koper, tripod ini dapat lebih ringkas dan lebih hemat ruang karena bisa dipreteli sehingga dapat di-minimize terbuangnya space akibat struktur desain tripod. Dan inovasi tetap akan terus berkembang lagi.

 

Tulisan ini saya buat selain untuk sharing, juga sebagai masukan bagi para pehobi fotografi yang sedang atau berencana untuk membeli atau mengganti tripod-nya. Agar dapat diperhitungkan dengan matang antara kebutuhan di lapangan juga disesuaikan dengan budget kita. Minimal jangan seperti saya, yang untuk mendapatkan tripod yang sesuai saja meski trial and error, mencoba-coba pada akhirnya kalau dihitung-hitung total malah semakin mahal.

 

Selamat ber-landscape ria.

 

 





Artikel Terbaru